Sabtu, 26 November 2016

puisi 3 - romantisme dalam sedih

Untuk D, orang yang kukasihi

salahmu
menorehkan kenangan manis dalam hidupku

salahmu
selalu membuatku tersenyum bahagia

salahmu
mengalah di setiap perdebatan yang kumulai

salahmu
mampu memenuhi segala inginku yang macam-macam

kini ketika perpisahan tak bisa dihindari
segala sesuatu tentangmu masih ada
aroma tubuhmu masih tercium
suara beratmu masih terngiang
hembusan napasmu masih terasa
hangat pelukmu masih terlekat

kini ketika perpisahan tak bisa dihindari
aku masih di sini
terdiam
terpaku menatap ketiadaan

kini ketika perpisahan tak bisa dihindari
karena benteng terlalu tinggi
aku menyadari

salahku,
pernah jatuh cinta padamu

puisi 2 - romantisme dalam sedih

Untuk D, orang yang kukasihi

Hujan turun
Memuramkan gelapnya malam
Uap dinginnya
Mengendap-endap melalui ujung jemariku

Hujan turun
Membawa sebuah nama yang sangat menyukai hujan
Nama yang selalu
Berdebat denganku karena aku tidak suka hujan

Hujan turun
Alunan tiap tetesnya
Menghidupkan kembali memori tentang aku dan nama itu

Hujan turun
Dingin di luar dan hujan yang hangat mengalir di wajahku
Membayang hadir nama itu di hadapanku
Yang dulu menghangatkan jari-jariku yang selalu dingin
Terutama ketika

Hujan turun

-november 2016

puisi 1 - romantisme dalam sedih

Untuk D, orang yang kukasihi

Hari ini kubulatkan tekad
Mengakhiri kebahagiaan ini
Kebahagiaan fana yang kita lalui tiga tahun satu bulan

Sudahi hubungan aneh ini
Hubungan yang bagi agamaku terlarang
Dan bagi agamamu, entahlah, aku kurang paham

Angin sepoi pinggir waduk
Meniup rambutku, membelai wajahmu
Sorotan matahari sore tak jenuhnya
Menemani kita, menunggu dialog-dialog sedih selanjutnya
Gemercik gelombang air
Memecah keheningan, menyadarkan kita dari lamunan

Bulir-bulir bening pun berdesakan di pelupuk mataku
Ingin segera menumpahkan diri di pipi
Setelah memastikan dirimu tampak baik, mereka menghambur
Membuatku tidak terlihat tak apa-apa

Kalimat-kalimat, kata-kata, melayang di pikiran
Berkecamuk, sudah tak tahan dan hampir meledakkan kepalaku

Isakan, teriakan, tertahan dalam diri
Membuat dada pengap
Menggetarkan badanku yang dingin

Namun mulut ini
Tak sanggup mengungkap
Namun tubuh ini
Rasanya kaku membeku

Ingin ku merengkuhmu untuk yang terakhir
Tapi tangan ini hanya mampu mengusap rambutmu, pipimu, pundakmu
Mengapa?
Mungkin masih belum ingin ini yang terakhir

Kita lalu beranjak
Berjalan perlahan meyakinkan hati, ini nyata
Masing-masing pun mulai sadar
Ini memang yang terakhir
Dan kita terlanjur tak sempat saling memeluk
Hanya gandengan ini yang tersisa
Yang dalam beberapa detik lagi harus terlepas
Karena aku harus pulang

Kamis, 22 Januari 2015

Cerpen Remaja? Here we go.....



Dia

Diadewi Ayu. Panggil saja Dia, si perempuan yang ramah. Sangat ramah kata para anak laki-laki. Tetapi bagi anak-anak perempuan, ia selalu berbasa-basi dengan sesama perempuan dan terlalu ramah dengan laki-laki. Dan bagiku, Dia adalah monster jahat yang memiliki rupa bak bidadari. Aku tidak terlalu mengenalnya, tetapi aku sudah buru-buru tidak menyukainya. Mengapa? Karena ia mengambil sahabatku. Tidak, ia menelannya.
“Kenapa? Bukankah ia manis? Ramah pula. Aku menyukainya dari dulu. Dia juga menyukaiku. Dan aku yakin kami akan bertahan lama. Sudahlah, urus dirimu sendiri yang kacau itu,” kata-kata Alex sedikit melukai hatiku. Tapi aku bisa memahaminya, mengapa ia berkata seperti itu. Mereka memang baru saja memulai hubungan, dan Alex yakin akan pilihannya. Bayangkan saja, kau baru memulai hubungan, tetapi sahabatmu langsung menentangnya,  dan menjelek-jelekkan pacarmu di depanmu. Kau pasti akan meninggalkan sahabatmu.
Beginilah aku sekarang, menjadi sahabat yang ditinggalkan. Aku menjalani hari-hari tanpa Alex. Di sekolah, ia duduk di dekat Dia. Sore hari, waktu kami biasanya bermain PS bersama, sekarang selalu pergi dengan Dia. Aku mulai bosan hidup tanpa Alex. Aku mulai bosan menonton video lucu, mendengar tawaku tanpa dibarengi tawa Alex yang sama menggelegarnya denganku. Aku juga mulai bosan bermain PS dengan adik-adikku yang menyebalkan itu.
Karena aku bosan, aku mencari teman-teman baru untuk ku ajak bermain. Mereka adalah Anton, Jago, dan Bima. Berteman dengan mereka adalah jalan terbaik rupanya. Biar kuceritakan pertemananku dengan mereka, mulai dari Anton.
Anton adalah laki-laki dengan kulit agak gelap, berambut acak-acakan, dan ada beberapa jerawat yang menyembunyikan ketampanannya. Ya, Anton memang tampan, tapi ketampanannya sangat tersembunyi, hampir tidak kelihatan. Ia yang paling sering bermain denganku, jadi, aku tahu banyak tentang kehidupan cintanya. Dari sekian banyak kisahnya, ada yang sangat menarik hatiku, yaitu kisahnya dengan Dia.
“Aku menyukainya sejak SD. Bukan karena dia manis, tapi karena ia sangat ramah padaku. Dia terus menerus memberiku perhatian ekstra.­ Lama-kelamaan aku juga menyukainya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menyatakan cintaku padanya, saat liburan menjelang masuk SMA. Tapi Dia menolakku, karena katanya, belum dibolehkan pacaran,” ia bercerita. Oh, oh, monster itu berdusta rupanya, batinku. Aku pun hanya menepuk pundaknya, menenangkan. Anton tertawa pahit, aku diam saja.
Sekarang si Jago. Aku tidak mengerti mengapa Ia dipanggil Jago. Menurutku, ia adalah laki-laki yang lemah, hatinya lembut dan sedikit mellow. Dia juga sedikit payah bagiku. Hanya bisa memainkan satu permainan kartu, minuman.
“Aku bodoh. Aku terlalu mengaguminya. Senyumnya yang ramah padaku, tubuhnya yang ramping, dan begitu indah gerakan tangannya ketika merapikan poninya yang mulai menutupi wajahnya. Awalnya dia seperti sahabat. Tapi aku merasakan ada yang berbeda, dia selalu baik padaku. Aku merasa damai bila dekat dengan Dia....” ia menahan tangisnya, kemudian melanjutkan lagi.
“Aku pun bilang suka padanya, aku tidak meminta jawaban. Tetapi katanya, Dia  juga suka padaku. Kemudian, tepat esoknya, ia mengganti statusnya menjadi berpacaran dengan Bima,” tangisnya tumpah.
“Sudahlah, jangan berlebihan. Lupakan saja,” aku menepuk pundaknya, menenangkan. Aku pun paham sekarang, mengapa dia dipanggil Jago, karena dia memang jago mendramatisir kisah cinta.
“Heh, banci! Nangis mulu,” ternyata Bima sudah ada di belakang kami, entah sejak kapan. Si Jago, yang sakit hati dipanggil ‘banci’, dengan cepat pergi. Sekarang di sini hanya aku dan Bima. Aku diam sejenak.
“Bim, aku ingin tanya sesuatu padamu,”
“Kau ingin menginterogasiku tentang Dia, kan? Aku sudah tau,” jawabnya seraya merapikan kartu yang tadi aku dan Jago mainkan. Dari cara berbicaranya yang lebih ketus dari biasanya, ia pasti tidak mau menceritakan apapun. Tapi aku terus mendesak dengan nada bicara yang sama dengannya.
“Baik. Sedikit saja. Dulu aku playboy. Tetapi setelah bertemu dengan Dia, aku jadi tidak pernah punya pacar lagi,”
“Sudah? Begitu saja?” aku sedikit bingung. “Ceritakan lagi,”
“Ah! Menyebalkan. Bisa tidak, kau tak usah ikut campur?”
“Aku tidak ikut campur dengan urusanmu. Aku juga tidak peduli masalahmu. Tapi, aku rasa dengan aku mengumpulkan cerita tentang Dia dari berbagai sumber, aku dapat menyelamatkan temanku,” Jawabku kesal, sama ketusnya dengan Bima.
“Mengganggu saja. Baiklah. Dulu aku merasa Dia adalah perempuan yang tepat untukku. Perempuan baik-baik, ternyata busuk. Setahun kami berpacaran, setahun aku dibodohi. Aku telah melakukan apa yang aku bisa, dengan tulus. Untuk pertama kalinya aku tulus mencintai. Namun, Dia benar-benar membuatku merasa sia-sia. Tetapi aku tetap bersabar. Kemudian suatu hari aku mengetahui bahwa dia sudah dekat dengan seseorang, dialah temanmu itu. Makanya aku benci dengan temanmu. Tetapi setelah ku pikir-pikir, dia juga korban, sama sepertiku. Tetapi ketika kau mengingatkan, temanmu itu malah menjauh darimu kan? Seharusnya kau tak usah pedulikan dia lagi. Biarkan saja dia melakukan yang ia inginkan, jika akhirnya kau benar, biar dia menyadarinya. Toh jika itu jalan terbaik, tak ada yang tahu kan?” aku tidak percaya Bima bisa bicara sebanyak ini. Aku masih terdiam, memikirkan kalimat terakhirnya.
Mungkin aku terlalu lama diam saja, Bima pun akhirnya pamit pulang. Aku masih memikirkan itu. Apa benar seharusnya aku diam saja? Tapi tidak bisa, aku merasa aku harus menyelamatkan temanku.
***
“Hai..” sapa Alex suatu siang saat aku duduk sendirian di kantin kampusku.
“Oh, hai Lex. Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku sedikit kaget.
“Aku  juga kuliah di sini. Lama tak bertemu ya,”
“Iya, aku bahkan hampir tidak mengenalimu,” sebenarnya sejak kamu bersama Dia, aku juga sudah tak mengenalimu, batinku.
“Aku ingin bicara padamu,”
“Katakanlah,” jawabku asal, seraya membuka laptop.
Ia pun bercerita mengenai Dia, “Benar katamu. Dia memang seperti apa yang kamu ceritakan,”
Aku mulai antusias, “Lalu?”
“Aku yang memutuskannya. Aku lelah, mengalami semua yang teman-temanmu pernah alami, yang kau ceritakan padaku. Makin lama, perhatiannya padaku semakin berkurang. Hanya empat tahun hubungan kami bertahan, dua tahun terakhir Dia seperti mencampakanku. Saat-saat seperti itu lah, aku butuh sahabat sepertimu. Tapi aku tidak berani menemuimu, dan tadi ketika aku melihatmu sendirian di sini, aku rasa ini saat yang tepat. Itulah mengapa aku ke sini,” kemudian ia  berhenti sejenak.
“Aku ingin minta maaf padamu,” lanjutnya. Aku tersenyum senang.
“Aku sadar selama ini kau yang selalu ada untukku. Kau selalu melakukan yang terbaik untukku. Walaupun aku selalu jahat padamu, tidak percaya padamu, dan menjauh darimu, kau tetap melakukan yang terbaik untukku. Kamu juga tidak marah padaku. Aku sadar.....ternyata aku suka padamu, Lea,” senyumku berangsur-angsur menghilang.
“Tapi aku tidak bisa,” jawabku setelah sekitar 20 menit berpikir. Aku tak mungkin merusak persahabatan kami. Sekali kami sahabat, maka akan tetap menjadi sahabat selamanya, aku memilih tetap bersahabat dengannya.
“Jangan terburu-buru, lebih baik kamu menenangkan hatimu, dan mencari yang lain, yang lebih baik,” lanjutku, kemudian menepuk pundaknya dan mengajaknya bersalaman.
“Selamat datang kembali, menjadi sahabatku. Dan berjanjilah kita akan tetap menjadi sahabat yang baik,” ia tampak kecewa sejenak, tetapi kemudian tersenyum mengerti.
“Oh, iya.. Bulan depan aku berangkat ke Perancis dan hidup di sana. Maka datanglah di wisudaku besok Selasa, bertemu untuk terakhir kalinya sebelum kita kembali berpisah,” kataku dengan hati-hati, agar tak membuatnya kaget. Tetapi dia menanggapinya dengan santai.
“Jangan sombong setelah kau menetap di sana. Datanglah jika aku membutuhkanmu,”

***

   From : alex_foxy@yahoo.co.id
  To   : Leavanya96@yahoo.com
  Date : 08/11/2024
  Masih ingat kata-kataku “datanglah jika aku membutuhkanmu”? sekarang aku benar-benar membutuhkanmu untuk datang. Minggu depan aku menikah, bertempat di Bougenvil Garden, di kota tempat kita lahir. Datanglah sebelum pukul 15.00, agar tak kehabisan makanan. Kau kan suka sekali makan.
  Jangan lupa datang. Aku sangat menunggu kedatanganmu.
  Dari sahabatmu, Alex.

Aku tersenyum lega setelah membaca e-mail dari Alex. Ia akhirnya berhasil mencari yang tepat untuknya, setelah insiden enam tahun yang lalu. Segera aku memesan tiket ke Indonesia untuk besok lusa, atau kapan saja, secepat mungkin.

***

Tibalah giliranku untuk menyalami kedua mempelai.
“Hai, Lex,” sapaku.
“Lea? K...Kau memanjangkan rambutmu?” Ia hampir tak mengenaliku. Aku hanya tertawa, kemudian buru-buru melanjutkan menyalami istri dan mertuanya. Lalu aku berjalan melintasi taman, ke sisi lain Bougenvil Garden yang indah ini.
Berseberangan dengan Alex dan keluarga barunya, aku duduk sambil memangku gadis kecil cantik  yang sedari tadi menarik-narik rokku. Sesekali aku mengusap kepalanya.
Tamu berpulangan, taman mulai sepi, dan gadis kecil ini pergi menghambur mencari makanan yang ia suka. Ia turun dari pangkuanku lalu menggandeng ayahnya yang bule itu. Kulihat Alex menyalami beberapa tamu terakhir yang terlambat, kemudian berjalan ke arahku. Wajahnya sumringah, merona.
“Aku turut bahagia, sahabatku,” kataku sambil tertawa.
“Terimakasih sudah datang jauh-jauh dari Perancis, hanya untuk datang ke pernikahanku,”
“Aku ke sini tak hanya semata-mata untukmu. Aku sekaligus ingin liburan,” kemudian aku merasakan ada yang menarik-narik rokku lagi. Aku menoleh, ternyata gadis kecil yang cantik ini. Aku menggendongnya dan mengenalkannya pada Alex.
“Sophie, ayo salaman dengan om ini. Namanya Om Alex. Lex, ini Sophie, anak pertamaku,” Sophie menyalami sambil tersenyum lebar.
“Saya Dominique. Lea’s husband,” Dom ikut menyalami Alex dan tersenyum dengan sangat ramah, sedangkan Alex masih tampak tercengang sejak aku mengenalkan Sophie. Aku tertawa geli melihat wajah bodohnya, bukan apa-apa, hanya saja wajahnya menjadi tampak jelek dengan tuxedo keren yang dipakainya.
“Kau terkejut?” tanyaku jahil.
“Ya, sangat-sangat terkejut. Tapi tak hanya kamu yang bisa membuat kaget. Aku juga bisa,” kemudian ia memanggil istrinya. Kulihat istrinya yang cantik berjalan anggun ke arah kami. Tetapi aku merasakan perasaan yang aneh. Tapi.....
“Perkenalkan, ini istriku, Diadewi Ayu,”

***

Minggu, 17 Agustus 2014

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan ekonomi

1. Sumber Daya Manusia (SDM) 
SDM merupakan kunci utama dalam prosesnya pembangunan ekonomi. Sumber daya alam (SDA) yang berlimpah apabila tidak didukung oleh SDM, tidak akan memperbaiki pembangunan ekonomi pada suatu negara. Hal ini terjadi karena SDM yang tidak berkualitas tidak akan mampu mengelola SDA secara optimal, bahkan cenderung mengeksploitasi SDA. Maka, untuk memperbaiki perekonomian, suatu negara harus memperbaiki kualitas SDM terlebih dahulu. Perbaikan kualitas SDM misalnya dengan meningkatkan taraf pendidikan dan menanamkan nilai-nilai moral yang baik.

2. Sumber Daya Alam (SDA) 
Sumber daya alam adalah faktor terpenting yang kedua. SDA baik yang hayati maupun nonhayati sangat memengaruhi pembangunan suatu negara, terutama dalam hal penyediaan bahan baku produksi. Jika suatu negara/daerah tidak memiliki SDA, negara/daerah tersebut akan memiliki ketergantungan terhadap negara/daerah lain. Sebaliknya, bila memiliki SDA, negara/daerah tersebut sudah memiliki modal dasar yang kuat untuk melakukan aktifitas ekonomi. Tinggal bagaimana SDMnya yang bisa mengolah SDA tersebut sehingga aktifitas produksi bisa dikuasai dari hulu hingga hilir.

3. Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi (IPTEK)
Ilmu  pengetahuan merupakan sarana manusia untuk mengolah sumber daya alam secara produktif. Contohnya rekayasa genetika di bidang biologi pertanian yang dapat menciptakan varietas padi yang lebih cepat masa panennya. Dengan demikian petani dapat meningkatkan pendapatannya yang nantinya akan berimbas pada peningkatan ekonomi. Demikian pula teknologi merupakan alat atau cara agar manusia dapat memaksimalkan pekerjaannya baik di bidang pertanian maupun industri. Contohnya dengan mesin-mesin canggih, suatu pabrik dapat memproduksi barang berkualitas baik dalam jumlah banyak dalam waktu singkat.

4. Sosial budaya 
Nilai-nilai sosial budaya sangat berpengaruh terhadap proses pembangunan. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi faktor pendorong dan dapat pula menjadi faktor penghambat. Faktor pendorong misalnya adanya konsep “time is money”. Bila suatu masyarakat menganggap bahwa waktu sangat berharga dan bisa mendatangkan uang, tentu masyarakat tersebut akan giat bekerja. Faktor penghambat misalnya tidak adanya nilai kedisiplinan yang  menginternal dalam kehidupan suatu masyarakat. Jika ketidakdisiplinan itu menyebar dalam suatu sistem kerja, tentu hasil pekerjaan tidak akan berkualitas baik. Produk yang tidak berkualitas akan sulit untuk bersaing di pasar bebas.

5. Keadaan Politik
Keadaan politik suatu negara berpengaruh terhadap keberlangsungan proses pembangunan ekonomi. Jika sebuah negara dalam keadaan perang dengan negara lain, atau mungkin sedang mengalami konflik internal dalam negeri, tentu kondisi keamanan dan ketertiban tidak stabil. Ketidakstabilan ini akan berdampak pada aktifitas ekonomi baik produksi, distribusi, maupun konsumsi. Sebaliknya jika negara dalam keadaan aman, damai, dan stabil, seluruh energi dari berbagai elemen bangsa akan terfokus pada pembangunan bangsa dan negara termasuk pembangunan ekonomi.

6. Sistem Pemerintahan
Pemerintahan dengan sistem sosialis dan liberalis kedua-duanya akan memberikan warna yang berbeda terhadap proses pembangunan. Pemerintahan yang bersifat liberalis akan lebih membebaskan warga negaranya dalam berbagai aktifitas termasuk pembangunan ekonomi. Pihak swasta akan lebih banyak berperan sehingga lebih banyak membuka peluang dalam berbagai sektor pembangunan. Pada pemerintahan dengan sistem sosialis, semua aspek kehidupan diatur oleh pemerintah sebagai pemegang kekuasaan secara otoriter. Oleh karena itu, pada negara-negara sosialis tingkat pembangunan ekonomi tidak terlalu menyolok seperti yang terjadi di Korea Utara.

Senin, 10 Februari 2014

Essay: Kenakalan Remaja - Tugas B.Indo

TUGAS ESSAY BAHASA INDONESIA

NAKALNYA REMAJA INDONESIA KINI


Tunjung_putih.png






Oleh:
Nur Yumna Auliya Afifah X4-26
  
©2014



Remaja adalah transisi antara masa anak-anak dan dewasa yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun secara psikis. Usia remaja berkisar antara 12 tahun-21 tahun. Masa ini adalah masa seseorang mengalami suatu perkembangan sehingga dirinya terdorong untuk lebih tahu mengenai banyak hal. Namun,masalah pun dapat timbul karena adanya rasa keingintahuan yang diluar batas. Masalah yang berkaitan dengan remaja ini biasa kita sebut dengan “KENAKALAN REMAJA”. Kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang melanggar norma,aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja.
Narkoba, salah satu dari contoh kenakalan remaja, obat-obat berbahaya ini sebenarnya dibuat untuk membius pasien dan dalam dosis tertentu. Namun, kini narkoba adalah musuh dalam selimut bagi para remaja. Mereka merasa ini adalah teman mereka, sesuatu yang memang seharusnya mereka konsumsi, bahkan bagi mereka ini adalah sesuatu yang lebih membahagiakan daripada bermain bersama teman-teman. Pemerintah sudah mulai gencar memberi penyuluhan terhadap bahaya narkoba yang kebanyakan dilakukan di sekolah menengah. Namun jika diamati, kebanyakan pengguna narkoba adalah anak-anak yang putus sekolah. Bukan berarti hanya sedikit anak sekolahan yang menyalah gunakan narkoba. Anak-anak seperti ini biasanya karena kekurangan perhatian dan salah pergaulan, seperti yang akan saya bahas setelah ini.
Vandalisme, adalah kenakalan remaja yang biasanya di lakukan untuk kesenangan semata. Anak- anak remaja ini biasanya melakukannya dengan cara menyemprotkan pylox ke tembok-tembok polos dengan tujuan eksistensi grup atau geng tertentu yang nantinya akan di segani oleh geng-geng yang lainnya. Ini juga disebabkan oleh salahnya pergaulan yang menyebabkan para remaja terjerumus ke suatu grup yang salah dan cenderung ke hal-hal yang sangat negative seperti tawuran dan vandalisme. Kegiatan mereka jika sedang berkumpul dengan anggota gengnya hanyalah nongkrong, merokok, dan kemudian melakukan kegiatan perusakan.
Tawuran antar pelajar, Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Bahkan bukan “hanya” antar pelajar SMU, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja. Dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus. Perkelahian pelajar ini juga sangat merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia. Selain hal-hal diatas, pandangan umum terhadap suatu sekolah atau lingkungan tertentu menjadi sangat buruk. Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah.

selanjutnya klik di sini :)